Koreksi Pemahaman Tasawuf (Sufi) Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

Kategori: Bantahan » Bidah » Manhaj » Pustaka Al Isnaad | 379 Kali Dilihat
Koreksi Pemahaman Tasawuf (Sufi) Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah Reviewed by jabalagency on . This Is Article About Koreksi Pemahaman Tasawuf (Sufi) Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

Koreksi Pemahaman Tasawwuf / Tasawuf Menurut timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah Para pembaca, rahimakumulloh.. Apakah anda mendengar ada seorang yang berjubah atau bersorban, bergelarkan kyai atau wali bahkan, namun ternyata dia tidak mau hadir dalam sholat Jum’at bersama kaum muslimin, alasanyya dia terbang untuk sholat di Mekkah? Apakah anda juga pernah… Selengkapnya »

Rating: 4.5
Harga: Rp 26.000 Rp 22.100
Order via SMS

085768978610

Format SMS/WA : ORDER#NAMA PRODUK#JUMLAH
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU :
Stok Tersedia
0.2 Kg
01-10-2017
Detail Produk "Koreksi Pemahaman Tasawuf (Sufi) Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah"

Koreksi Pemahaman Tasawwuf / Tasawuf Menurut timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah

Para pembaca, rahimakumulloh..

Apakah anda mendengar ada seorang yang berjubah atau bersorban, bergelarkan kyai atau wali bahkan, namun ternyata dia tidak mau hadir dalam sholat Jum’at bersama kaum muslimin, alasanyya dia terbang untuk sholat di Mekkah?

Apakah anda juga pernah mendengar seorang “kyai” yang terpergok berzina di hotel, na’udzubillah min dzalik, namun dia justru berkata “ini halal” baginya?

Demikian juga seorang yang katanya telah mencapai derajat “hakikat”, dia memandang bahwa segala yang haram menjadi Halal baginya, semisal khamr dan zina. Dan berbagai perintah dalam syariat menjadi batal baginya, tidak perlu Sholat, tidak perlu Puasa, dsb.
Itulah ajaran tasawwuf, itulah akhir dari tujuan tasawwuf, bahkan sampai mengaku kalau Allah yang Maha Suci telah merasuk dalam dirinya, manunggaling kawulo Gusti, sebuah ajaran kekufuran.

Mereka menganggap lebih baik dari para Shahabat Nabi, yang sampai akhir hidupnya masih beribadah.

Bahkan Mereka menganggap lebih baik dari para Nabi, Bahkan Nabi kita Shollalohu ‘alayhi wa salllam harus dipapah untuk berjamaah sholat di Masjid.

Apa yang tidak lebih menyimpang dari ini, wahai kaum muslimin, maka mari kita waspada dari ajaran tasawuf ini, menjauhi tasawuf, tidak perlu masuk pintu posnya, karena pada akhirnya menjatuhkan pelakunya dalam kekufuran, dan tidak ada yang dapat menjamin, ketika sudah masuk, kemudian dia merasa yakin, dia diberi taufik untuk kemudian berbalik dan menempuh jalan yang lurus.

Semoga kehadiran buku ini, yang merupakan terjemah dari kitab Ash-Shufiyah, Fi Mizan al-Kitab Was-Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah, bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Tags: ,

Dapatkan Diskon
Daftar newsletter
error: Content is protected !!
Hubungi Kami via WhatsApp