Majalah Fawaid Edisi 12 – Hukum hukum Seputar Jenazah

Kategori: Fawaid » Majalah | 334 Kali Dilihat
Majalah Fawaid Edisi 12 – Hukum hukum Seputar Jenazah Reviewed by jabalagency on . This Is Article About Majalah Fawaid Edisi 12 – Hukum hukum Seputar Jenazah

Majalah Fawaid Edisi 12 – Hukum hukum Seputar Jenazah Topik Pembahasan di Majalah Fawaid Edisi 12 antara lain: Pondasi Iman: Keabsahan Khilafah Abu Bakar Ash-Shiddiq Topik Khusus: Hukum-hukum Jenazah Topik Khusus: Menggapai Barokah Tanpa Ijazah Akibat “Nonton” Ustadz di TV Rodja Fatwa: Pujian asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi terhadap Asy-Syaikh… Selengkapnya »

Rating: 4.5
Harga:Rp 9.000
Order via SMS

085768978610

Format SMS/WA : ORDER#NAMA PRODUK#JUMLAH
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : FWD12
Stok Tersedia
0.1 Kg
10-10-2016
Detail Produk "Majalah Fawaid Edisi 12 – Hukum hukum Seputar Jenazah"

Majalah Fawaid Edisi 12 – Hukum hukum Seputar Jenazah

Topik Pembahasan di Majalah Fawaid Edisi 12 antara lain:

  • Pondasi Iman: Keabsahan Khilafah Abu Bakar Ash-Shiddiq
  • Topik Khusus: Hukum-hukum Jenazah
  • Topik Khusus:
  • Menggapai Barokah Tanpa Ijazah
  • Akibat “Nonton” Ustadz di TV Rodja
  • Fatwa: Pujian asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi terhadap Asy-Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholi
  • Membela Manhaj Salaf: Meruntuhkan Syubhat Hizbiyyun
  • Aqidah Kita: Iman dan Islam (2)
  • Fiqih Ibadah: Bab Sunnah Fitroh (2)
  • Kisah Ulama: Panji-panji Pembaharuan dalam Dakwah Syaikh Muqbil
  • Tanya Jawab Fawaid: Membabat Syubhat dan Makar Mutalawwin
  • Rumah Kita: Bangun Rumah di Musim Hujan? Jalan Terus!

Prakata Majalah Fawaid edisi 12

Kematian sangat akrab dengan kita. Demikian sering kita menjumpai kematian, entah itu saudara tetangga, teman maupun orang yang tidak kita kenal. Seorang muslim dituntut untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Yang paling utama adalah persiapan menghadapi kematian diri kita sendiri, berupa amal sholih sebagai bekal kehidupan setelah kematian Yang berikutnya adalah pengetahuan tentang bagaimana menghadapi kematian yang menimpa orang-orang yang ada di sekitar kita.

Pengetahuan tentang pengurusan jenazah perlu kita ketahui karena mengurus jenazah termasuk bagian dari ibadah dalam agama kita. Setiap ibadah harus selalu didasari oleh ilmu agar bisa menjadi amal sholih yang diterima oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Kaum muslimin wajib mengurusi jenazah saudaranya yang meninggal dunia. Bila sudah ada sebagian muslimin yang mengurus jenazah maka kewajiban muslim yang lainnya gugur.

Mengurus jenazah memiliki keutamaan yang besar. Bagi orang yang mau menyolati jenazah Alloh ta’ala menjanjikan baginya pahala satu qirot. Bila ia mau mengantarkan jenazah tersebut hingga dikubur, maka pahalanya ditambah satu qiroth lagi menjadi dua qirot. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam menjelaskan dalam sebuah hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu‘anhu bahwa dua qirot itu bagaikan dua buah gunung yang besar.

Pengetahuan tentang pengurusan jenazah juga penting kita ketahui karena di masyarakat kita banyak berkembang amalan yang tidak sesuai dengan bimbingan Rosululloh shollallahu ’alaihi wa sallam. Terlebih pengurusan jenazah merupakan amalan yang termasuk jarang kita lakukan, sehingga kemungkinan untuk terjadi kesalahan atau penyimpangan dari sunnah Rosululloh shollallohu ’alaihi wa sallam lebih besar.

Pembaca yang kami hormati. Selain tema tentang pengurusan jenazah yang kami
muat dalam Topik Utama, kami juga mengangkat satu tema yang banyak memunculkan perselisihan dan juga kebingungan bagi salafiyyin. Tema tersebut terkait dengan permasalahan ijazah formal (negara), yang kami angkat dalam
rubrik Topik Khusus.

Bisa dikata permasalahan formal telah menjadi fitnah yang sekian lama melanda
salafiyyin. Di sejumlah tempat sempat memunculkan perselisihan yang tajam dan berakhirdengan perpisahan.

Mengapa sampai demikian? Karena di satu sisi salafiyyin ingin tetap berupaya sekuat tenaga menyelamatkan anak-anak dari bentuk-bentuk pendidikan yang bisa merusak agama, sementara di sisi lain ada pihak-pihak yang mencoba menyusupkan model pendidikan yang lambat laun akan menyebabkan rusaknya agama anak-anak kita. Inilah dua sisi yang tidak mungkin disatukan. Sehingga ketika berbagai upaya penjelasan telah ditempuh namun tidak membuahkan hasil, perpisahan pun menjadi jalan terbaik.

Para asatidzah banyak menjelaskan bahwa salafiyyin tidak anti ijazah. Namun yang tidak dimaukan adalah banyaknya pelanggaran syariat yang harus ditempuh bila anak-anak kita ingin mendapatkan ijazah (formal). Sementara di sisi lain sama sekali tidak ada keharusan bagi anak-anak salafiyyin untuk memiliki ijazah formal.

Sehingga menghindari kejelekan adalah pilihan yang kita kedepankan, daripada menempuh jalan yang penuh dengan mara bahaya dalam keadaan demikian banyak jalan yang aman dan selamat. Wallohu a’lam.

Dikutip dari gemailmu.com

Tags: , , ,

Dapatkan Diskon
Daftar newsletter
error: Content is protected !!
Hubungi Kami via WhatsApp